Back

Kurs Rupiah Indonesia Menguat ke 16.574 di Tengah Koreksi Dolar AS, Fokus pada Data PDB AS

  • Rupiah Indonesia rebound ke 16.574 saat Dolar AS terkoreksi, dengan DXY lebih lemah di sekitar 104,40.
  • Pemerintah dan BI optimistis, menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, ini hanya sentimen sementara, tidak memicu krisis besar.
  • Pasar global menunggu data ekonomi AS, termasuk laporan PDB kuartal keempat dan pidato para pejabat The Fed.

Rupiah Indonesia (IDR) mencatatkan penguatan sebesar 0,33% ke 16.574 melawan Dolar AS (USD) pada perdagangan hari Kamis menjelang akhir sesi Asia. Pelemahan pasangan mata uan USD/IDR ini terseret koreksi yang dialami Dolar AS, memberikan dorongan bagi mata uang Indonesia untuk rebound di tengah sentimen pasar yang terus berkembang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski Rupiah sempat melemah ke level terburuk sejak krisis 1998, pergerakan yang berfluktuasi itu biasa terjadi. Ia juga mencatat hasil positif dari RUPS dua bank BUMN besar. Meski ada faktor eksternal, namun kondisi ekonomi Indonesia tetap terkendali. Salah satu langkah pemerintah dalam mendukung Rupiah adalah mempercepat deregulasi perizinan usaha.

"Ya tentu, ekspor harus tetap jalan kemudian deregulasi (seperti) arahan Pak Presiden, soal perizinan dan lain-lain dipermudah sehingga ekspor impor lebih lancar," katanya di YouTube Sekretariat Presiden, seperti yang dikutip dari Kompas.

Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Dedek Prayudi, mengutarakan pernyataan senada, dengan menyebutkan bahwa iklim investasi tetap terjaga, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan disebabkan oleh faktor domestik semata, melainkan tren global di mana banyak investor beralih ke aset yang lebih aman seperti emas.

Dedek menyoroti penerbitan SUN yang menarik Rp 28 triliun, mencerminkan kepercayaan pasar. "Iklim investasi stabil, pemerintah terus menjaga kondisinya," tulisnya di Instagram @jurubicarapco.

Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah yang terjadi lebih dipengaruhi oleh sentimen sementara, bukan faktor fundamental yang dapat memicu krisis besar. Deputi Gubernur BI, Solikin M. Juhro, dalam Taklimat Media Bank Indonesia, menekankan pentingnya pembelajaran dari krisis Asia 1997-1998 yang mengajarkan perlunya deteksi dini terhadap kerentanan ekonomi. Solikin menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan masa pada saat krisis moneter Asia.

BI dan pemerintah tetap mencermati dinamika ekonomi global dan domestik, termasuk faktor sosial, politik, serta kemajuan teknologi yang berpotensi memicu ketidakstabilan. Langkah-langkah kebijakan yang lebih hati-hati dan pengawasan ketat menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sementara itu di Amerika Serikat, Biro Sensus melaporkan bahwa Pesanan Barang Tahan Lama di Amerika Serikat meningkat sebesar 0,9% atau sekitar 2,7 miliar dolar pada Februari, mencapai total 289,3 miliar dolar. Data ini melampaui ekspektasi pasar yang memprakirakan penurunan sebesar 1%. Kenaikan ini mengikuti revisi pertumbuhan Januari yang mencapai 3,3% dari laporan awal 3,1%. Angka yang lebih baik dari prakiraan ini menunjukkan ketahanan sektor manufaktur AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Indeks Dolar AS (DXY) ditutup di level 104,66 pada Rabu setelah rilis data tersebut. Indeks ini menghadapi tekanan jual setelah kesepakatan gencatan senjata Laut Hitam yang dimediasi Amerika Serikat, di mana Ukraina menyatakan kesiapan untuk berkomitmen sementara Rusia menuntut pencabutan sanksi atas sektor keuangan dan pertaniannya. Pada sesi Asia, di siang hari DXY terkoreksi ke 104,40-an.

Di sisi lain, sentimen pasar bergeser setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana percepatan penerapan tarif Tembaga dalam beberapa minggu ke depan, lebih cepat dari yang diprakirakan, yang menopang DXY di tengah dinamika global.

Para pedagang kini menantikan agenda ekonomi AS pada Kamis, termasuk rilis laporan akhir PDB kuartal keempat, Klaim Pengangguran Awal, dan data Penjualan Rumah Tertunda. Bersama dengan serangkaian pidato dari beberapa anggota FOMC. Data dan pidato The Fed berpotensi mempengaruhi permintaan USD dan menciptakan peluang perdagangan jangka pendek bagi pasangan mata uang USD/IDR.

Indikator Ekonomi

Produk Domestik Bruto Disetahunkan

Produk Domestik Bruto (PDB) riil tahunan, dirilis setiap triwulan oleh Biro Analisis Ekonomi AS, mengukur nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi di Amerika Serikat dalam periode waktu tertentu. Perubahan PDB merupakan indikator paling populer untuk kesehatan ekonomi negara secara keseluruhan. Data dinyatakan dalam tingkat tahunan, yang berarti bahwa tingkat tersebut telah disesuaikan untuk mencerminkan jumlah PDB yang akan berubah selama satu tahun, jika terus tumbuh pada tingkat tertentu. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Mar 27, 2025 12.30

Frekuensi: Kuartalan

Konsensus: 2.3%

Sebelumnya: 2.3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) merilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara tahunan untuk setiap kuartal. Setelah menerbitkan perkiraan pertama, BEA merevisi data dua kali lagi, dengan rilis ketiga mewakili pembacaan akhir. Biasanya, perkiraan pertama adalah penggerak pasar utama dan kejutan positif dilihat sebagai perkembangan positif USD sementara data yang mengecewakan kemungkinan akan membebani greenback. Pelaku pasar biasanya mengabaikan rilis kedua dan ketiga karena umumnya tidak cukup signifikan untuk mengubah gambaran pertumbuhan secara bermakna.


 

Kazaks, ECB: Kita Mungkin Dapat Terus Memangkas Jika Dasar Tetap Stabil

Pengambil kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) Martins Kazaks mengomentari trajektori pelonggaran Bank.
Baca lagi Previous

ASII Lanjutkan Kenaikan Kemain ke 4.840, Perseroan Umumkan RUPS pada Awal Mei 2025

ASII diperdagangkan di 4.840, naik 0,83% pada saat berita ini ditulis pada hari terakhir sebelum dimulainya cuti bersama Hari Raya Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947 dan Idul Fitri 1446 Hijriyah hingga 4 April 2025.
Baca lagi Next